h1

Is it TOO LATE to question my SANITY?

January 28, 2012

Day 15 in BENGKULU. This is where my new life begins. Many things happened in the past few days. As predicted, the main problem were culture shock and language gap. Not that I don’t enjoy them, but you know, these whole things are way too shocking for me, that’s why.. New place,  new people, new culture, new language,and new habit, all blend in one big pot called NEW LIFE. When I took the decision to marry him, little did I know it would end up like this. That the changes would be this BIG. That I would question my sanity over and over again. Back then I used to get up late, now I get up early. I didn’t use to do house cores, now I do. I used to have a job, now I don’t. I used to make  my own money, here my husband does. I used to buy anything I want, now I need to ask for his permissions…

h1

January 24, 2012

Tidak terasa 2 bulan sudah berlalu semenjak aku menyandang predikat ‘NYONYA’… 20 November 2011, itulah tanggal yang dipilih olehku.. alasannya? simple aja: tanggal cantik.. 20-11-2011.. Memang sesimple itulah jalan pikirku. aku bukanlah penganut paham tanggal baik dan tanggal buruk sebagaimana orang Jawa kebanyakan. Not that I don’t respect their point of view, but it’s just not ME.. Dulu ya, duluuuuuu banget, jaman2 aku sering ikut pengajian dengan ustad Nabiel sebagai penceramah, dia pernah bilang semua tanggal itu baik, di Islam tidak ada istilah tanggal baik dan tanggal buruk. kalau ngga salah Nabi Muhammad sengaja menikahkan anaknya Fatimah di bulan Safar, demi mematahkan anggapan bahwa menikah di bulan Safar itu bawa sial, karena itu musim kawin binatang. Yaaah.. itulah salah satu ilmu yang berhasil aku serap selagi menatap wajah ganteng ustad yang satu itu.. hihihihihi!!! Jujur saja, aku bukanlah sosok yang religius, dan menghadiri pengajain bukanlah suatu hobi buatku. awalnya aku mengikuti pengajian itu karena bosan mendengar ajakan a.k.a  sindirian para senior di kantorku, dengan hati enggan akupun menghadirinya dan begitu menatap wajah ganteng nan sejuknya, keengganan itu serta merta berubah jadi keikhlasan.. ^^

Kalau kita flash back, semua kejadian yang sudah lewat ENTAH KENAPA jatohnya pasti LUCU. Padahal waktu ngejalaninnya, STRESSnya bukan maen!! Have you ever felt that way too? Well, it always happens to me. All the time….

20-11-2011, tanggal cantik yang dipilih berjuta-juta orang pada saat yang bersamaan, membuatku tidak bisa berharap banyak akan kehadiran tamu. Pagi itu dimulai dengan rentetan sms di pagi yang hari yang isinya kurang lebih sama: “Sorry ya Say, couldn’t make it to ur wedding, bla..bla..bla..” a bit dissapointing actually, I was hopping to meet some of my old mates.  aku masih inget omongan periasku tadi malam “Neng, ulah telat nya enjing.. pokona mah telat2na jam satengah genep kedah aya di gedung wee” (Neng, jangan telat ya besok… pokoknya paling telat jam 5.30 harus udah ada di gedung yaa).. And last-minute-person like me, baru sampe ke gedung itu jam 6.30!! dan tebak dimana periasnya?? masih OTW, sodara-sodarah.. Grrrr…

Aku mulai dirias jam 7 kurang, ngga boleh liat cermin pula.. katanya nanti efek magicnya ilang… “Baca sholawat nabi ya Neng”, kata periasnya. Yayayayaya, manut aja… Turned out, banyak hal-hal yang sooooo unpredictable! Sepupuku yang ngambeklah  ngga mau pake kostum penerima tamu, gara-gara bajunya ngga matching sama dalemannya. ternyata jilbab dan dalemannya harus bawa sendiri, and helloww?? how the hell should i know?? This is my first marriage and periasnya ngga ngasih tau apapun mengenai itu.. Yang ada, I spent quite a long time saying sorry and ngebujukin dia untuk pake kostum itu..

Belum lagi si papih yang tiba-tiba kumat keras kepalanya. Jam 8 lewat dia masih di rumah, santaaaaaiiii… baru sampe gedung jam 9 kurang, terus dia ngga mau pake kostum beskap, maunya pake jas aja pas ijab kabul. Katanya nanti  pas resepsi , baru pake beskapnya. Dimana itu mengundang tanya dari semua orang…. “Kunaon nya?? Aya naon nya?” (Kenapa yaa? Ada apa yaa?)….. Aaarrrrrgghhhh!!!!

Acara serah terima pengantin pria ke keluarga pengantin wanitapun otomatis mundur 30 menit dari yang dijadwalkan. Acara ijab kabul baru dimulai jam 9.30, and this is my favorite part: REMEDIAL PART.. kayanya profesiku sebagai seorang guru gadungan yang sering banget ngasih remedial sama murid, mengundang banyak sumpah serapah dari para remedialers tadi. buktinya masa ijab kabul aku REMEDIAL 7 KALI!! Lagi-lagi si Papihlah tersangkanya.. Dari semalam aku sudah menawarkan diri untuk menyiapkan text ijab kabulnya, eeeh dia bilang “Udah bisaaaaaa…. Udah apaaaaaalll…. Santaiiiiiii..” dan inilah cuplikannya:

Papih: “Pada hari minggu, tanggal 20 November 2011, kita berkumpul disini…”

Penghulu: “Maaf, Pak.. kita langsung to the point saja.. dibuat singkat saja…”

Papih: “Saudara ADIANTI…..”

Penghulu: “Maaf, Pak.. ADIANTO”

Papih: “Saudara Adianto BINTI Basturi….”

Penghulu: “Maaf, Pak… BIN”

Dan gurat-gurat kekesalan mulai nampak di wajah si bapak penghulu.

Penghulu: “Bagaimana kalau Bapak ikuti saja ucapan saya ya Pak; SAUDARA ADIANTO BIN BASTURI MASIR, SAYA NIKAHKAN ANAK SAYA DENGAN ENGKAU, DENGAN MAS KAWIN EMAS PUTIH SEBERAT 11.73 GRAM DIBAYAR TUNAI”

Papih: “Pada hari minggu…….”

GUBRAK!!!

Setelah 7 kali REMEDIAL yang akan selamanya terpatri di dalam hati, predikat ‘NYONYA’pun berhasil aku sandang. Dilanjut dengan upacara adat, sungkeman pada masing-masing orang tua pengantin laki-laki dan perempuan (ini yang paling banyak menguras air mata, terutama saat sungkeman pada Mamih-superwoman yang telah membesarkanku sampai bobotku 80 kilo ini-), dilanjut dengan acara huap lingkup. masing-masing orang tua pengantin memegang satu gumpalan nasi ketan kuning. masing-masing orang tua perempuan memberi suapan pada anak kandung mereka. dan masing-masing orang tua laki-laki memberi suapan pada menantu mereka. begitulah SEHARUSNYA… tapi begitu papih mengambil gumpalan nasi ketan kuning itu dari nampan perak, serta merta dia menggigit, mengunyah dan menelannya. Dan nasi ketan yang tadinya bulat itu tiba-tiba menjelma jadi bulat sabit. Begitu dia tahu itu SEHARUSNYA diberikan pada menantunya, dipencet-pencetlah si bulan sabit itu demi mengembalikanya pada bentuk aslinya, dimana hal tersebut mustahil adanya!! Akhirnya si bulan sabit berselaput jigong itu disuapkannya pada suamiku yang menelannya dengan suka cita (karena dia tidak tahu apa-apa)… Gustiiii….

Acara tarik menarik bakakak ayampun dimenangkan oleh Super Mbiw!! Sayang, saking beratnya si ayam meluncur ke lantai.. Hiks! Dilanjut dengan acara Saweran.. sebetulnya

h1

TERSADAR dan TERTAMPAR…

November 5, 2011

 

AKU TERPAKSA MENCINTAINYA

by Loq Safwan on Monday, October 17, 2011 at 4:07pm

Kisah inspiratif untuk para istri dan suami

Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

http://bundaiin.blogdetik.com/2011/10/07/kisah-inspirasi-untuk-para-istri-dan-suami/

h1

Ketiadaan versus Keberadaan

October 30, 2011

KETIADAAN memang bukan suatu hal yang menyenangkan, itu pasti. Tapi ketiadaan yang juga disertai dengan PENGHINAAN, bukan saja dirasa tidak menyenangkan, tapi juga MENYAKITKAN..

Lalu apa jadinya jika semua hal yang MENYAKITKAN itu berasal dari mereka yang SEHARUSNYA melindungi kita? Mereka yang SEHARUSNYA mencegah itu semua? Bukankah itu lebih MENYAKITKAN lagi?

Sungguh, KETIADAAN bukanlah suatu alasan bagi siapapun untuk MENGHINA siapapun. Apalagi jika dalam diri mereka mengalir darah yang SAMA… Garis keturunan yang SAMA…

Kini aku semakin melihat bukti nyata sifat manusia, dimana KEBERADAAN memang bisa menghadirkan banyak hal yang MENYENANGKAN… Menghadirkan  senyuman, tutur kata yang manis, perilaku hormat, pelayanan, pertemanan, juga KEKERABATAN yang luar biasa ERAT…

Disaat KEBERADAAN berganti peran dengan KETIADAAN, semua itu berlalu bagaikan angin…

Tuhan..

Aku bersyukur PERNAH merasakan KEBERADAAN itu…

Aku bersyukur JUGA menjalani KETIADAAN ini…

Tidak sedikitpun niatku mengecilkan rezekiMU, karena aku yakin masih banyak mereka yang lebih BERKEKURANGAN dariku.. semoga ENGKAU senantiasa melimpahi mereka dengan kesehatan, kesabaran, keimanan, dan kebahagiaan yang tidak dapat terbeli oleh keberadaan apapun juga… jauhkan mereka dari kesedihan, dari penghinaan, dari pengkerdilan yang ditujukan dunia untuk mereka…

Itu doaku untuk mereka, mencakup doa untukku di dalamnya..

h1

Pak Mario said so..

September 1, 2011

“Engkau yang sedang bersedih saat orang lain bergembira,

dan yang sebenarnya menyembunyikan

kepedihan di balik canda tawa ceriamu,

Kesinilah,
duduklah dekat denganku,
dan dengarlah ini …

Kepedihan di masa lalu itu terjadi satu kali.

Janganlah mengulanginya dalam pikiranmu,
seperti engkau ingin memperpanjang deritamu,
karena kepedihan itu akan mengganda, menguat,
dan melemahkan hatimu,
setiap kali engkau mengulanginya dalam anganmu.

Damailah.

Dekatkanlah dirimu kepada Tuhan..”

 

Mario Teguh

h1

Leave me not..

August 14, 2011

 

Dimana damai itu, Tuhan?

Dimana oasis jiwa itu, Tuhan?

Rasa haus yang  kurasa belum seberapa dibanding dahaga yang bersemayam di jiwa..

Sentuh jiwa kerdil ini dengan jariMU..

Agar dia bisa merasakan sejuknya setetes embun di bulan yang suci ini..

Aku rindu damai itu..

h1

Tie The Knot, Baby!! ^^

July 15, 2011

Sudah cukup cinta yang IRASIONAL itu…

Saatnya menjalani cinta yang PROFESIONAL…


h1

Make sense, rite?!! ^^

June 16, 2011

Hasil Copas dari salah satu postingan temen di tengah malem buta:


Anak  : Pak, Kenapa sih making love itu enak banget (katanya – RED)??
Bapak: Wah, itu kayak sensasi waktu kamu ngupil pake jari kamu, Nak..
Anak  : Trus, kenapa cewek lebih menikmatinya, Pak??
Bapak: Karena waktu kamu ngupil, yang kerasa paling enak khan hidung kamu dan bukan jari kamu..
Anak : Terus, kenapa cewek benci banget amit-amit jabang bayi kalo mereka diperkosa??
Bapak: Seperti kalo kamu di jalan ketemu orang asing, trus orang asing itu pengen ngupilin hidung kamu pake jarinya dia ngeselin khan??
Anak : Kenapa cewek nggak bisa / nggak mau gituan waktu mereka lagi datang bulan??
Bapak: Kalo hidung kamu berdarah, kamu masih pengen terus ngupil??
Anak : Katanya, semakin banyak sperma laki-laki yang keluar waktu orgasme, semakin besar kenikmatannya… Bener nggak sih, Pak??
Bapak: Semakin besar upil yang kamu dapet waktu ngorek, semakin puas nggak kamu??
Anak : Kenapa cowok nggak suka pake kondom waktu mereka making love??
Bapak: Kamu suka nggak ngupil pake sarung tangan??
Anak  : Wahhh… Bapak pinter banget deh… Hehehe!!
Kesimpulan:

Buat yang pengen ML tapi ga ada penyaluran mending ngupil aja deh!!

h1

AKU

June 13, 2011

 

 

Tuhan…

aku adalah manusia yang selalu RAGU..

aku adalah manusia yang selalu penuh dengan PENYESALAN..

aku adalah manusia yang mampu hidup di MASA LALU..

dan aku adalah manusia yang enggan menatap MASA DEPAN..

karena itu… SEMBUHKAN aku Tuhan….

 

 

h1

05.06.11

June 5, 2011

 

Hari ini, 7 tahun yang lalu…………………

 

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.